Tahap Perkembangan Manusia

Tiga Tahap Perkembangan Manusia
Menurut Auguste Comte
Oleh : Achmad Masnawi

Pengantar
Teori tiga tahap perkembangan manusia yang dicetuskan oleh Comte tidak bisa dilepaskan dari konteks sejarah. Kejadian yang terjadi saat itu adalah keadaan setelah revolusi Prancis. Dengan keadaan yang demikian dapat dikatakan bahwa susunan masyarakat berantakan dan sudah tidak tersusun secara teratur lagi. Ada suatu kebutuhan untuk membentuk susunan masyarakat yang baru. Saat itu gelombang pemikiran pencerahan juga sedang digandrungi sehingga dengan hal ini sistem religius dan feodalisme dinyatakan hancur. Karena alasan inilah maka ada suatu corak pemikiran untuk menciptakan sistem baru dengan masyarakat ilmiah dan industrial.
Maka dari itu perlu diperhatikan pula bahwa pada abad-abad itu setelah terjadi revolusi industri di Inggris, gelombang pada hal yang bersifat ilmiah terus membesar. Setidaknya garis alur pemikiran Auguste Comte sangat dipengaruhi dinamika peristiwa itu.
Teori tiga tahap perkembangan manusia yang dicetuskan Auguste Comte ini bisa jadi dipengaruhi oleh konteks zaman yang membutuhkan kajian teori. Ini dimaksudkan untuk mendukung dan mendorong bahwa apa yang sudah menjadi keadaan masyarakat ilmiah dan industrial itu tetap kokoh.
Filsafat Positif
Pembahasan tiga tahap perkembangan manusia tidak bisa dilepaskan dari filsafat positif Auguste Comte. Pada buku Course of Positive Philosophy, Comte ingin mengekspresikan’filsafat positif’. Dengan kata filsafat ia mau mengerti apa yang lampau (the ancient), lalu dengan fakta-fakta yang dikumpulkan ia menciptakan sistem umum tentang konsep manusia ( the general system of human consepts ). Lalu dengan kata positif, ia memahami ide dari teorinya dengan mengkoordinasi fakta-fakta yang diobservasi.
Comte menandaskan dari pandangannya, ilmu pengetahuan menggolongkan fenomena atau fakta observasi berdasar deskripsi bukan eksplanatori. Filsafat itu harus memeriksa metode-metode ilmu alam dan penyebab-penyebab sintesis macam-macam fakta ilmu pengetahuan. Dengan kata lain secara tidak langsung filsafat mengkoordinasi fakta-fakta observasi.
Dengan metode positif ini, posisi fenomena mendapat arti tersendiri. Dalam arti ini fenomena mengekspesikan keyakinan Comte bahwa kita tahu akan realita hanya yang kelihatan. Comte menuntut bahwa filsafat yang sejati selalu mengambil bentuk sistematik yang didiskripsikan sebagai ‘good sense’ atau ‘natural ideas’. Ini mau ditekankan bahwa apa yang berpijak pada sesuatu yang empiris dapat dikatakan sebagai pengetahuan. Dengan begitu formulasi ini dapat diprediksi dan juga diuji. Inilah yang bagi Comte dikatakan sebagai jalan untuk mencapai pengetahuan sejati. Coplestondi dalam bukunya menyatakan bahwa filsafat positif yang dikembangkan Comte bukanlah sceptical philosophykarena pengetahuan kita dibatasi oleh data.
Tiga tahap Perkembangan Manusia
Semangat positif yang dikembangkan oleh Comte dalam filsafatnya tidak bisa dipisahkan dari perkembangan budi manusia. Di dalam pandangan Comte, proses ini juga dipercaya terdapat pada sifat dasar manusia sesuai dengan kebutuhan. Maka dari itu di dalam sejarah perkembangan pikiran manusia dibagi menjadi 3 tahap yaitu 1) teologi, 2) metafisis, dan 3) positif. Perkembangan ini dapat dipahami atau dapat dianalogikan juga sebagai perkembanganindividu manusia dari masa anak-anak, remaja, hingga dewasa. Comte menyejajarkan tahap teologi seperti masa anak-anak, tahap metafisis seperti masa remaja, dan tahap positif seperti masa dewasa. Dengan anggapan seperti itu Comte mensintesiskan bahwa perkembangan pikiran manusia itu berlangsung sesuai tahapan itu secara keseluruhan.
Melalui teori tiga tahap ini, refleksi dari sejarah manusia merupakan pangkal yang memimpin Comte memformulasikan teori yang berdasarkan pada filsafat positifnya. Ia menghubungkan tahapan ini dengan fase hidup individu dan melihat fase ini dengan kaca mata sejarah yang lebih luas. Teori tiga tahap ini merupakan jalan sederhana untuk mendekatkan diri pada filsafat positifnya.
Tahap pertama yaitu teologi. Ini dimengerti oleh Comte sebagai being. Dalam fase ini manusia mencari sebab-sebab terakhir di belakang peristiwa-peristiwa alam dan menemukannya dalam kekuatan-kekuatan adimanusiawi. Pada masa anak-anak ini secara instingtif manusia mencoba menjelaskan fenomena-fenomena. Manusia mencari penyebab sejati dari yang tidak diketahui yang dianggap berasal dari benda berjiwa dan sesuatu yang menyerupai manusia. Oleh Comte, mentalitas animistik ini didiskripsikan sebagai tahap fetisisme. Lalu pada tahap berikutnya berkembang politeisme yang memproyeksikan kekuatan alam menjadi bentuk dewa-dewa. Berikutnya dewa-dewa politeisme ini dilebur menjadi satu konsep Tuhan monoteisme. Inilah urutan sub - bagian dari fetisisme, politeisme, hingga monoteisme yang terdapat bersama di dalam tahap teologi.
Tahap kedua sebagai tahap metafisis. Pada tahap metafisis ini, penjelasan aktifitas kehendak ilahi diganti menjadi idea-idea fiksi seperti ether, prinsip-prinsip penting, dll. Masa transisi dari tahap teologi ke metafisis ini telah selesai ketika konsep supernatural dan dewa-dewa digantikan oleh konsep all-inclusive Nature.
Tahap ketiga yaitu tahap positif. Tahap ini dikatakan sebagai masa dewasa dari mentalitas. Pada tahap ini, pikiran memusatkan diri pada fenomena atau fakta hasil observasi dimana itu semua digolongkan di bawah hukum umum deskriptif umum, seperti hukum gravitasi. Dengan adanya hukum-hukum deskriptif ini akan membuat berbagai prediksi menjadi nyata. Dan memang, sasaran dari pengetahuan positif yang sejati adalah kemampuan untuk memprediksi dan mengontrol. Pengetahuan positif itu sejati ( real ), pasti ( certain ), dan berguna (useful).
Meskipun pikiran bahwa pengetahuan positif itu pasti, namun Comte juga mendesak bahwa ini harus ditatapkan pada perasaan relatif. Ini karena kita tidak bisa mengetahui keseluruhan alam semesta. Pengetahuan positif ini juga relatif dimana proses mencari yang absolut ditinggalkan. Dengan kata lain, pengetahuan positif tidak mampu mengetahui penyebab terakhir. Comte selalu menganggap ini hanyalah masalah pada masa teologi dan metafisis.
Lalu teori tiga tahap memiliki sedikit hubungan dengan reorganisasi masyarakat. Comte juga menggolongkan tahap tersebut denganbentuk organisasi sosial. Tahap teologi diasosiasikan dengan kepercayaan pada otoritas absolut, kebenaran ilahi dari raja, dan golongan sosial yang berbau militer. Dengan kata lain, golongan sosial didapatkan melalui otoritas atas. Lalu dalam tahap metafisis ada kepercayaan pada hukum-hukum abstrak. Dan yang terakhir tahap positif yang diasosiasikan dengan perkembangan masyarakat industri. Dalam tahap ini, kegiatan ekonomi menjadi perhatian dan terdapat para elit dalam ahli ilmu pengetahuan yang mengorganisasikan kelompok masyarakat.
Bagi Comte, abad pertengahan itu merupakan representasi tahap teologi. Masa pencerahan sebagai representasi tahap metafisis. Lalu masa dimana Comte hidup merupakan awal tahap positif.
Dari tiga tahap perkembangan manusia ini dapat diambil dua point. Pertama, berhubungan dengan kepercayaan. Comte menyatakan kepercayaan kita ini kerdil karena tidak didasarkan akal sehat dimana tidak ada alasan positif untuk percaya bahwa ada Tuhan yang transenden. Dengan kata lain, penyebaran ateisme adalah ciri-ciri perkembangan pikiran pada masa dewasa ini.
Kedua, berhubungan dengan korelasi tiga tipe organisasi sosial dengan tiga tahap perkembangan manusia.Dalam kajian ini Comte mau mengungkapkan semakin intelektual manusia maju maka perkembangan sosial dapat berjalan lebih cepat. Ini dikarenakan ada suatu rencana sosial yang dilakukan oleh para elite pengetahuan juga ada suatu apriaori bahwa semakin mental maju maka kemajuan sosial akan lebih cepat tercapai.
Komentar
Jika dilihat dan dibaca memang apa yang menjadi pemikiran Comte bisa dikatakan sungguh-sungguh masuk akal. Tetapi bila dilihat secara teliti ada yang kurang dan kuran sesuai dengan fakta-fakta yang ada. Contohnya, ilmu pengetahuan tidak benar-benar terjadi hanya tahap pisitif. Seperti ilmu matematika yang nyatanya sudah ada pada masa yunani kuno dulu.Jadi jelas apa yang dinyatakan oleh Comte kiranya hanya bertujuan untuk mendukung teorinya. Lalu ia hanya memandang sejarah eropa dari kacamata filsafat positifnya saja.



0 komentar:

Poskan Komentar